5 Alasan Nikah Sesuku Dilarang oleh Masyarakat Minangkabau

918
Ilustrasi

KABANEWS.COM – Bagi suku Masyarakat Minangkabau menikah sesuku dilarang, bagi yang melanggar ketentuan ini bisa dipastikan bakal termarjinalkan dari lingkungan keluarga dan masyarakat Minang dimana mereka tinggal. Sebab itu, ada beberapa oknum pelaku hengkang dari kampung dan pergi merantau dan enggan pulang ke kampung halaman.

Dilarang menikah sepersukuan adalah hukum yang tak tertulis namun memiliki kekuatan yang lebih dari hukum tertulis. Bayangkan, seorang pembunuh bisa saja dihukum 20 tahun, setelah itu ia bebas pulang ke rumahnya dan bersosialisasi dengan masyarakat. Namun, bagi pelaku nikah sesuku untuk selamanya mendapat hukuman dari masyarakat. Ada yang puluhan bahkan hingga ajal menjemput tetap hidup menjauh dari sanak keluarga dan masyarakatnya.

Menjadi bahan kasak-kusuk alias pembicaraan orang sekampung, dicemooh, dan dikucilkan, pengucilan adalah bentuk sanksi sosial yang biasanya didapat untuk mereka yang nekat menikah dengan pasangan dari suku yang sama. Di tanah Minang, orang yang satu suku tidak diizinkan menikah, kendati beda kabupaten/kota, kecamatan, nagari atau jorong. Intinya, selagi mereka dalam adat Minang satu suku (pisang, chaniago, koto, sikumbang, piliang dll), maka akan sulit melangsungkan sebuah pernikahan.

Menikah sesuku menurut logika hukum Minangkabau tidak baik. Sanksinya jika dilanggar adalah sanksi moral, dikucilkan dari pergaulan. Bukan saja pribadi orang yang mengerjakannya, tapi keluarga besar pun mendapat sanksinya, membuat aib karena perangai kita. Selain itu juga beredar mitos di Minangkabau, yang sudah diyakini turun-temurun, nikah sesuku akan membawa petaka dalam rumah tangga.

Berikut 5 alasan mengapa masyarakat Minangkabau melarang keras pernikahan sesuku.

1. Mengganggu Psikologis Anak
Anak-anak hasil dari perkawinan sesuku tidak memiliki suku/kampuang di kenegarian dan tidak memiliki hak-hak secara adat. Kemudian anak tersebut disamakan statusnya dengan anak hasil perzinahan/anak luar nikah atau dalam bahasa kampungnya “Anak Gampang”.

2. Kehilangan Hak Secara Adat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan perkawinan satu suku berdampak pada rusaknya tatanan adat yang sudah berlaku sejak lama, pemberian sanksi bagi pelaku dan keluarga baik moril maupun materiil, serta hilangnya hak terhadap harta pusaka dan kaburnya sistem kekerabatan matrilineal dan cenderung mengarah ke sistem parental.

Agama, pergaulan bebas, berkurangnya wibawa penghulu adat, pendidikan dan melemahnya daya ikat peraturan adat menjadi faktor-faktor penyebabnya. Oleh karena itu dengan perkawinan antara anggota suku yang berbeda tetap menjamin kelangsungan sistem kekerabatan matrilineal.

3. Membawa Kerugian Materi
Denda secara adat diberi hutang satu ekor kerbau, dimana keluarga pelaku kawin satu suku didenda satu ekor kerbau dan mereka harus memasaknya sendiri. Setelah selesai dimasak maka dipanggil seluruh warga untuk menikmati hidangan, hal ini dilakukan untuk memberikan sanksi kepada keluarga besar pelaku kawin sesama suku.

4. Mempersempit Pergaulan
Orang yang sesuku adalah orang-orang yang sedarah, mempunyai garis keturunan yang sama dari moyang yang telah ditetapkan oleh para tokoh Minangkabau dan ulama yang terkenal dengan kejeniusannya. “Ibaraiknyo cando surang se mah Laki-laki nan ‘Iduik’ atau cando surang se mah padusi nan kambang”.

Pengucilan secara adat. Dalam adat-istiadat di Rantau Kampar Kiri kemenakan yang melakukan kawin sesuku, dianggap seperti binatang yang tidak punya malu, kiasannya “Laksana buah baluluk, tacampak ka aie indak dimakan ikan, tacampak kadarek indak diicatuk ayam, (bagaikan buah berlumpur, hanyut di sungai tak dimakan, jatuh di darat tak dimakan ayam).”

Bentuk nyatanya pengucilan ini adalah seperti, apabila keluarga yang melakukan kawin sesuku melakukan pesta maka masyarakat adat tidak akan menghadirinya. “Rumah indak ditingkek, nasi indak dimakan, aie indak diminum, (rumahnya tak akan dikunjungi, nasi tak akan dimakan, air tak akan diminum).”

5. Pelopor Kerusakan dalam Kaum
Mereka yang kawin sesuku diyakin sebagai pelopor kerusakan hubungan dalam kaumnya (kalangan satu suku). Ketika pernikahan sesuku terjadi, konflik besar akan mudah terjadi. Ibaratkan sebuah negara, akan lebih mudah hancur apabila terjadi perselisihan sesama rakyatnya daripada perselisihan sesama dengan negara lain.

Ketika suami istri bertengkar lalu saling mengadu ke orangtua masing-masing, maka kedua orangtua mereka juga mengadu ke saudara-saudaranya, ke mamak, ke datuk. Akhirnya terjadilah banyak pertengkaran, padahal mereka bersaudara dan sesuku. Akhirnya suku hancur gara-gara perkawinan ini.

Demikian sebab-sebab pernikahan sesuku dilarang yang kami kutip dari media inspirasi Indonesia. Selain itu,  dikaji secara antropologi, kawin satu suku dapat menyebabkan kesenjangan salah satu unsur kebudayaan atau penyimpangan unsur kebudayaan. Salah satu unsur kebudayaan tersebut adalah adat. Karena itu kawin satu suku merupakan penyimpangan adat.

Kecuali itu, ilmu kedokteran mengatakan keturunan yang berkualitas apabila si keturunan dihasilkan dari orang tua yang tidak mempunyai hubungan darah sama sekali. Adapun keturunan yang terlahir akibat hubungan darah yang sama akan mengalami kecacatan fisik dan keterbelakangan mental (akibat genetika).

Secara genetis sebanyak 25 persen anak hasil perkawinan sedarah akan mengalami kelainan bawaan. Contoh penyakit yang disebabkan oleh penyakit keturunan antara lain buta warna, hemofilia (kelainan genetik karena kekurangan faktor pembekuan darah), thallassaemia (kelainan darah), alergi, albino, asma, diabetes melitus dan penyakit-penyakit lainnya yang dibawa oleh kromosom.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.