Adat dan Agama Pedoman Hidup Orang Minang

1502
masjid asasi, padang panjang, arsitektur mesjid berpadu dengan rumah adat minang, foto : specialpengetahuan

KABANEWS.COM – Salah satu daerah di Indonesia yang sangat kental pengaruh Islamnya adalah Sumatera Barat. Budaya Minangkabau, yang menjadi budaya penduduk asli Sumatera Barat dan agama Islam sendiri bak dua sisi mata uang. Baik adat maupun agama sama-sama mengakar kuat. Hal ini tercermin dari adagium Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah yang menjadi pedoman hidup orang Minang. Ungkapan ini berarti, adat yang ada di Minang harus berdasarkan syariat yang tercantum dalam Al-Qur’an.

Semula, budaya Minang masih dipengaruhi Hindu-animisme. Agama Islam sudah dikenal, namun pengaruhnya belum terlalu besar. “Pada masa itu judi sabung ayam, pacu kuda, dan minum tuak masih lazim dilakukan di pesta-pesta adat,” kata Akmal Nassery Basral, tokoh pemerhati budaya Minang.

Pada tahun 1803, tiga ulama Minang yang baru pulang haji menggagas revolusi budaya di ranah Minang. Mereka, Haji Piobang, Haji Miskin, dan Haji Sumanik, mendesak agar adat dan tradisi Minang yang bertentangan dengan syariat Islam dihapuskan. Gagasan tersebut mendapat penolakan keras dari kaum adat, karena penegakan Islam secara keseluruhan dapat merancukan banyak aspek dalam adat budaya Minang, terutama dalam sistem matrilineal, yang selama ini menjadi ciri khas Minangkabau.

Penolakan itu berbuntut panjang, hingga meletuslah Perang Padri. Perang antara kaum padri (ulama) dengan kaum adat itu berlangsung hingga tahun 1833, mengorbankan banyak harta dan jiwa orang Minang yang terpecah.

Di sisi lain, orang Minang saat itu juga tengah menghadapi penjajah. Tuanku Imam Bondjol yang menyadari hal ini pun mencoba merangkul kembali kaum adat. Akhirnya tercetuslah perjanjian kompromi antara kaum padri dan kaum adat di Bukit Marapalam, yang hingga kini dipegang orang Minang, yaitu Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Setelah itu, peperangan yang berlanjut hingga 1838 bukan lagi perang saudara, melainkan perang melawan Belanda.

IDENTIK DENGAN ISLAM

Begitu identiknya Minang dengan Islam—seperti Bali dengan Hindu, sampai-sampai jika orang Minang yang murtad dari Islam tak lagi dianggap orang Minang. Istilahnya, dibuang sepanjang adat. Orang Minang yang keluar dari agama Islam akan dikeluarkan dari ranji atau silsilahnya. “Hal ini masih berlaku di tingkat nagari. Ia akan dengan kesadaran sendiri meninggalkan kampung atau memang diusir dan mendapatkan hukuman adat,” kata Akmal.

Lain halnya di kota-kota besar seperti Padang atau Bukittinggi, yang masyarakatnya lebih heterogen, hukuman adat itu mungkin tidak berlaku lagi. Menurut Akmal, bila sudah lebih dari tiga generasi, apalagi di kota besar, tidak terlalu mengherankan jika menemukan orang Minang yang sudah berpindah agama. Apalagi masyarakat Minangkabau sangat terbuka terhadap pendatang. “Contohnya, di Bukittinggi banyak orang Tionghoa yang sudah berada di Minang sejak lama. Mereka yang membawa agama selain Islam ke Minang,” kata Akmal.

Memang seiring makin banyaknya pendatang, tak dipungkiri banyak budaya dan agama lain yang masuk ke ranah Minang. Namun, selayaknyalah identitas Minang, adat dan agamanya, seiring sejalan. Kehadiran Islam semestinya dapat membuat adat tradisi Minangkabau semakin bermakna, bukan menjadi pemantik konflik perdebatan yang tak kunjung usai.

Sumber : Ummi oleh Ken Andari

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.