Banyak Cerita Di Batusangkar, Salah Satunya Lubuak Larak , Bagaimana Kabarnya Kini..?

2526
" Lubuak Larak", adalah aliran anak sungai kecil, berhulu dari Sarasah (air terjun) gunung Merapi, kemudian mengalir ke wilayah Sungai Jambu, Parambahan Lima Kaum, bertemu dengan anak sungai Batang Sigarungguang Malana Ponco dan akhirnya bermuara di Tapi Selo Pagaruyuang" cerita Lazwardi, foto : Odid Erki Pratama

KABANEWS.COM – Lubuak Larak Batusangka ” Lubuak Larak Bacarito ” ” Banyak Carito ” Baa Kabanyo Kini..?

“Lubuak Larak”, adalah nama dari aliran sungai kecil, yang dulu jadi tempat mandi, bermain dan berbagai kegiatan masyarakat di Batusangkar. Sejak era tahun lima puluhan, sampai di era tahun sembilan puluhan, aliran Sungai “Lubuak Larak”, ramai didatangi masyarakat, khususnya warga yang berdomisili di wilayah Malana Ponco, Jati, Pasar dan Sigarungguang.

Sudah jadi omongan di masyarakat, bagi yang tidak mengenal Lubuak Larak, bisa dipastikan ia bukan orang Batusangkar. Begitu saking populernya aliran Sungai “Lubuak Larak” kala itu.

Kenapa sungai kecil ini begitu dikenal?
Mari kita simak penuturan Lazwardi, separoh hidupnya akrab dan tinggal Malana Ponco, tidak jauh dari aliran Sungai “Lubuak Larak”.

Lazwardi lahir di Batusangkar, 28 July 1961, anak ke empat dari keluarga Moenaf Hamid (alm) dan Noercaya Arifin (almh). Menurutnya ” Lubuak Larak”, adalah aliran anak sungai kecil, berhulu dari Sarasah (air terjun) gunung Merapi, kemudian mengalir ke wilayah Sungai Jambu, Parambahan Lima Kaum, bertemu dengan anak sungai Batang Sigarungguang Malana Ponco dan akhirnya bermuara di Tapi Selo Pagaruyuang”. Begitu cerita Lazwardi pada pertemuan kami, di sela-sela ketika ia sedang bertugas di Jakarta.

Aliran sungai ini berada di wilayah Batusangkar Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Sedangkan aliran sungai yang dinamakan “Lubuak Larak”, hanya aliran sungai yang berada di wilayah Jorong atau Kelurahan Malana Ponco. Tidak jauh dari Pusat Pasar Kota Batusangkar. Sehingga aliran Sungai “Lubuak Larak”, mudah didatangi oleh semua penduduk yang berada di sekitar wilayah ini.

Nama Sungai “Lubuak Larak”, sebetul nya adalah, Batang Marampeh. Oleh karena di sekitar aliran sungai tersebut dulunya banyak tumbuh pohon Larak, maka penduduk setempat menamakan sungai tersebut “Lubuak Larak”. Begitu ungkap Lazwardi.

Keindahan alam di sekitar aliran Sungai “Lubuak Larak”, yang dilingkari oleh alam pergunungan, menjadikan “Lubuak Larak”, sangat diminati dan akrab dengan masyarakat Batusangkar.

Ketika musim kemarau tiba, air “Lubuak Larak”, terlihat sangat jernih, batu-batu besar yang ada pada aliran sungai ini, semakin terlihat jelas. Apalagi di waktu pagi hari. Udaranya sangat sejuk.

Di pagi hari, embun berarak lembut, bergerak perlahan di atas permukaan sungai, seperti permadani putih transparan, halus, menyelimuti dinginnya pagi. Suasana itu menggiring kita pada udara pergunungan yang fantastis, akan pemandangannya yang elok.

Jalan untuk menuju aliran Sungai “Lubuak Larak”, selalu melewati pematang sawah. Sehingga pematang sawah yang dilewati warga itu, selalu terlihat mengeras dan rapi. Selain dari itu pula, banyak kita jumpai setiap hari, warga memancing belut di sekitar persawahan dekat aliran sungai ” Lubuak Larak “, karena belut yang berasal dari persawahan, sangat terkenal kelezatannya.

Kegiatan keramaian kampung, sering diadakan di sekitar aliran sungai ini, seperti lomba “Alang-Alang”, atau masyarakat umum menyebutnya permainan Layang-Layang. Permainan tradisi masyarakat Batusangkar yang sudah turun temurun dari setiap generasi, sejak era tahun Lima Puluhan.

Ketika bulan suci Ramadhan tiba, tidak sedikit pemuda-pemudi khususnya warga yang berasal dari daerah Malana Ponco, Sigarungguang, Pasa dan Jati, berbondong-bondong mendatangi aliran Sungai “Lubuak Larak” ini, untuk ikut bermain “Badia-badia Batuang”.

Badia-badia Batuang, adalah permainan yang terbuat dari batang bambu berukuran besar. Di tengah-tengah batang bambu itu, dibuat lobang sesuai dengan ukuran bambu. Diisi sumbu kain dan kemudian dimasukkan minyak tanah ke dalam bambu tersebut. Setelah semua itu dimasukkan ke Batang Bambu, “Badia-badia Batuang” siap dimainkan.

Posisi “Badia-badia Batuang”, ketika dimainkan, ditempatkan pada suatu penyanggah kayu atau batu yang kokoh, agar saat dibunyikan ” Badia-badia Batuang”, tidak bergerak.

Untuk menghasilkan bunyi “Badia-badia Batuang”, disulut dengan sumbu api. Ketika dimainkan, permukaan ujung bambu “Badia-badia Batuang” harus lebih tinggi. Kemudian, diarahkan ke areal kosong (biasa ke arah tengah sungai). Agar saat dibunyikan tidak mengenai orang yang hadir di areal itu. Jadi sewaktu “Badia-badia Batuang” dibunyikan, bisa aman dan tidak membahayakan. Sementara pangkal bambu untuk tempat menyulut apinya, berada pada posisi yang lebih rendah.

Semua yang ikut bermain “Badia-badia Batuang”, akan berusaha menghasilkan bunyi yang paling keras. Siapa yang dapat menghasilkan bunyi yang paling keras, dialah yang jadi pemenangnya.

Permainan ini tiap tahun, apalagi saat Bulan suci Ramadahan, sangat ramai dimainkan di sekitar areal aliran Sungai “Lubuak Larak”.
“Tanpa permainan “Badia-badia Batuang”, bulan suci Ramadhan (bulan Puaso), seperti kehilangan rohnya”. Begitu ungkap Lazwardi bercerita tentang serunya permainan “Badia-badia Batuang”.

Permainan “Badia-badia Batuang” ini, kitika bulan Puaso, dimainkan setelah sholat subuh, sampai terbitnya matahari. Kemudian diulang lagi ketika sore hari, sampai mendekati waktu berbuka.

Begitu banyak cerita yang lahir dengan keberadaan Aliran Sungai “Lubuak Larak”. Cerita-cerita itu menurut Lazwardi, memberi kesan tersendiri bagi setiap orang atau semua generasi yang pernah merasakan sejuk dan jernihnya air aliran sungai kecil itu. “Carito-carito itu indak lupo dek awak sampai alah tuo kini”, (Cerita-cerita itu tidak pernah lupa sampai sudah berusia tua seperti sekarang ini), begitu kata Lazwardi dengan ekspresi penuh senyum, mengingat masa-masa itu.

Kini keceriaan orang-orang menikmati jernihnya air, segarnya menghirup udara sekitar aliran sungai bersama keluarga, sahabat dan handai taulan, hanya tinggal kenangan. Sejak tahun sembilan puluhan, aliran sungai “Lubuak Larak”, menyempit akibat rumput ilalang, mulai tumbuh di sepanjang pinggir-pinggirnya.

Tidak sedikit dari masyarakat yang pernah merasakan manfaat positif aliran Sungai ” Lubuak Larak ” ini, merasa rindu akan beribu cerita, yang dulu pernah mereka rasakan. Semua kenangan itu kini jadi cerita yang tak pernah terlupakan.

Di zaman modern seperti sekarang ini, rasanya bukan suatu hal yang mustahil, apabila aliran Sungai “Lubuak Larak” yang memiliki sejarah tersendiri di hati masyarakat Batusangkar itu, bisa diaktifkan kembali seperti sedia kala, sebagai sebuah alternatif areal Pariwisata Budaya, yang sangat bermanfaat bagi masyarakat Batusangkar dan sekitarnya. Begitu harapan Lazwardi, mengahiri cerita aliran Sungai “Lubuak Larak”.

Rasanya tentu banyak lagi cerita menarik, berkisar aliran Sungai “Lubuak Larak”, yang ada di hati masyarakat, khususnya bagi mereka yang pernah akrab dengan aliran sungai ini.
Semoga semua itu akan tetap menjadi cerita, yang selalu membangkitkan rasa rindu kita, akan kesejukan dan indahnya aliran Sungai “Lubuak Larak”. Aliran sungai kecil yang penuh kenangan dan beribu cerita.

Salam….
Penulis Benny Krisnawardi. Di masa kecil pernah merasakan jernih dan sejuknya aliran Sungai “Lubuak Larak”.

Baca juga tulisan Benny : “To The Clouds” (Menuju Awan) Karya Tari Siti Alisa Soelaeman

BAGIKAN

LEAVE A REPLY