Corong Suara Lantang Eko Supriyanto Dalam Tari “Cry Jailolo”

750
Tari "Cry Jailolo". Sebuah karya yang mengangkat berbagai persoalan di seputar teluk Jailolo. Tari ini ditarikan oleh tujuh orang penari laki-laki, dengan hanya mengenakan kostum celana pendek berwarna merah., foto : istimewa

KABANEWS.COM – “Saya sangat beruntung dan merasa mendapat anugrah yang luar biasa, ketika diundang Bupati Halmahera Barat beberapa tahun yang lalu untuk membuat festival teluk Jailolo”. Begitu ungkap Eko Supriyanto dengan panggilan akrabnya Eko. Seorang koreografer dan penari profesional asal kota Solo Surakarta.

Sejak kedatangan Eko ke Jailolo, menurutnya, banyak hal yang ia dapatkan. Semua itu seakan membuka mata kesenimanannya untuk meneliti, merespon dan mengenal lebih dekat masyarakat, alam, serta seni budaya setempat.

Tidak tanggung-tanggung, Eko melakukan kegiatan diving di teluk Jailolo, agar bisa melihat lebih dekat kondisi terumbu karang yang katanya banyak terjadi kerusakan.

Hasil dari penelitiannya, Eko melahirkan karya tari “Cry Jailolo”. Sebuah karya yang mengangkat berbagai persoalan di seputar teluk Jailolo. Tari ini ditarikan oleh tujuh orang penari laki-laki, dengan hanya mengenakan kostum celana pendek berwarna merah. Walaupun terlihat sederhana, akan tetapi dapat mendukung karakter karya tari ini, yang memperlihatkan kekuatan atau ketangguhan sebuah tradisi yang digambarkan lewat ruang-ruang gerak tubuh penari laki-laki.

Struktur serta dinamika karya yang mengalir bagai air berpusar pada titik tertentu, bergelombang tiada henti. Eksplorasi tubuh yang mengandalkan kekuatan kaki melahirkan simbol-simbol gerak yang berdinamika tinggi, menyiratkan ketangguhan budaya serta kekuatan laki-laki Jailolo dalam keseharian.

Ragam gerak, langkah yang tidak jauh berbeda dalam setiap frase, melahirkan kekuatan emosi dalam ruang imaji yang kuat dari setiap bagian. Di sini terlihat Eko Supriyanto berhasil mewujudkan kekuatan dalam keunikan sebuah budaya tradisi lokal, yang kemudian ditata dalam ruang koreografi serta tubuh yang menari. Karya ini sontak membuat decak kagum banyak orang, dan menggiring kita untuk mengenal Jailolo yang sedang “tertidur”.

Karya tari “Cry Jailolo” seakan corong suara yang lantang, membongkar tradisi, dan menyadarkan proses kreatif penggarapan karya yang selama ini berakar dari budaya tradisi.

Catatan penting ditorehkan oleh karya ini. Bermuara pada kesadaran yang hakiki akan pendekatan budaya tradisi yang agung, tanpa merusak
nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Kini karya tari “Cry Jailolo”, melabuhkan harapan, berkeliling dunia, membangun nilai-nilai yang hilang untuk bangkit, menata kembali ruang peradaban keluhuran sejati.

Program satu tahun selama kurun waktu 2017, telah menanti kehadiran karya tari “Cry Jailolo”. Luar biasa..setelah lama tertidur, kini bangkit dan terbang seperti burung Garuda menyuarakan nyanyian alam Nusantara nan indah.

Semoga kesuksesan karya tari “Cry Jailolo”, dapat memicu kembali budaya tradisi Nusantara di pelosok manapun berada, menjadi kekuatan besar bangsa Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.

Salam Budaya.
Penulis Benny Krisnawardi

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.