“Encang Encot” Melalui Tari, Irfan Memproyeksikan Masa Kecilnya

544
Karya Ifan Setiawan, Encang Encot tampil pada hari kedua RIF 2017 di teater kecil, tim, (14/5/2017) foto : Djajusman Erlangga

KABANEWS.COM – Opening karya tari Encang Encot pada urutan keempat dari rangkaian program pertunjukan Main Performance RIF 2017, hari kedua (14/5/2017), dimulai dengan gelap. Samar terlihat ada sebuah tali yang menggantung, entah apa yang tergantung, ternyata sebuah sarung. Motif kain kotak-kotak itu terlihat seperti buntelan. Pencahayaan masih samar, remang, kemudian pada tali gantungan itu terlihat sebuah warna merah, warna baju/kostum. Selang beberapa saat wujud itu semakin jelas, nyata oleh pencahayaan yang terus merambat pelan, ternyata itu adalah seorang penari yang sedang duduk menyangkut pada buntelan sarung, semakin terang.

Perlahan penari itu kemudian menjulurkan tangannya, berusaha berdiri, keluar dari ayunannya dan kemudian berjalan, menari. Tarian solo berlangsung oleh Siti Alisa Soelaiman beberapa saat yang tidak begitu panjang, Alisa penari Ifan yang juga seorang korografer To The Clouds yang tampil di hari pertama, menari dengan memakai kostum tradisi Melayu, atasannya berwarna merah menyala, bawahan sarungnya berwarna hijau. Beberapa saat Alisa menari, disambut dengan gerakan tarian oleh penari lain yang juga berpakaian tradisi lengkap. Ada empat orang penari pada koreografi itu, dua penari perempuan dan dua orang penari laki-laki, semuanya menggunakan kostum tradisi.

Penari laki-laki itu salah satunya adalah Irfan Setiawan, koreografer karya ini. Masa kecil Ifan diayun “dinina bobok kan dalam ayunan seperti ini”, kata Ifan.

Dalam koreografi Encang Encot, Ifan Setiawan dari IKJ Dance Company mencipta gerak dari mengeksplorasi ayunan itu, dia mengayun, menggantung, mengudara. Membuat komposisi-komposisi gerak terbang diatas ayunannya, bersilang, menyerong, mendesain garis-garis dengan tali gantungan ayunan, menuju arah-arah sudut panggung dan tengah, tali ayunan itu silang menyilang, artistik.

Kelahiran Belinyu Bangka Belitung 26 Februari 1996, Ifan telah memiliki pengalaman berkesenian sebagai penari dan koreografer, Ifan juga berpengalaman dengan mengikuti beberapa pendidikan Master Class dari koreografer-koreografer ternama dalam dan luar negeri.

Mahasiswa Tari Ikj ini telah menciptakan koreografi tari 1 dari 10, Encang Encot, Dystopia, Bala, Paradoks, Diantara Abu-Abu, Fokus Gak Fokus.

Penampilan karya Ifan malam itu sebagai penutup Ragam International Festival 2017 (RIF 2017) menjadi penguat, mempertegas sikap tari kontemporer Indonesia yang masih berdisiplin pada ekplorasi gerak tari. Siti Alisa Soelaiman, M. Iqbal dan Ifan Setiawan, mereka penari dan koreografer kontemporer dari institusi seni masing-masing, fokus mengolah teknik tari dan gaya tari dalam garapannya, walau terkadang masih terasa kental dengan adegan teaterikal pada beberapa adegan, akan tetapi menggarap tubuh, gerak dan tari, menjadi sebuah penanda, identitas tari kontemporer Indonesia.

Indra Zubir

Baca juga : Nungki Kusumastuti : Kontemporer Asia Tenggara dalam RIF 2017

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.