Garik Dalam Tubuh

796
Ery Mefri, pimpinan dan koreografer Nan Jombang Dance Company

KABANEWS.COM – Pada daerah lain saya kurang memahaminya. Wilayah yang menyangkut masalah tari dengan akar totalnya Silat, silat Minang.

Adalah suatu keharusan, bahwa kita mesti kembali mendalami dan memahami Silat dengan segala ritual ketradisian pesilat, baik dalam kesehariannya, maupun ketika mereka sedang berada di sasaran tempat berlatih silat.Takala kita telah mendalami ini sesuai dengan kemampuan yang kita miliki, maka sebagai seorang penari dan koreografer, kita akan mampu menarik pemahaman secara baik, sebatas pandangan dan pamahaman masing-masing.

Pemahaman Saya di titik ini, bertujuan untuk kebutuhan Koreografi. Ketika kita berbicara tentang tubuh, kita tidak boleh lepas untuk mengenali lingkungan sekitar tubuh itu. Menjalankan kesehariannya, dalam memenuhi tuntutan tentang kenapa tubuh itu ada di sana.

Kehadiran tubuh menjadi sangat penting karena ada yang membutuhkannya.
Siapa dan apa yang membutuhkannya ?
Setiap Koreografer akan mencarinya. Hasilnya tentu jelas tak akan pernah sama.

Ada beberapa pendapat mengatakan, bahwa pencak, Jalik dan Silat itu berbeda.
Betul berbeda, tapi akan menjadi salah apabila ada yang mengatakan Pencak atau Jalik itu adalah bunga-bunga Silat yg dimiliki oleh pemula.

Rasanya bunga pastilah sesuatu yg indah. Apakah mungkin seorang pemula mampu bersilat dengan bentuk yg indah?
Apakah mungkin seorang pesilat pemula mampu melakukan “Ganggang Sapadi, serta mampu Balega Dilapiak Nan Salai?”.
Indah di luar
Hafalan, kenapa disebut hafalan ?

Di kampung saya, tak ada gerak atau jurus yang harus dihafal. Bagi mereka, ketika ada gerak sekecil apapun, di situ ada peluang untuk diserang. Begitupun sebaliknya, akan ada yang terbuka, maka seketika itu, kita bisa membalas serta dibalas. Sangat jarang terlihat ada tangkisan kecuali elakan untuk kembali menyerang dan diserang tanpa berkesudahan.

Sebuah koreografi tertata, akibat berfungsi dan terlatihnya semua panca indra, yang akhirnya melahirkan berbagai nilai estika yang sangat indah.
Mungkinkah itu mampu dilakukan seorang pemula ?
Maka dapat dipahami, kalau kita berpendapat terhadap para penari tradisi, yang juga merupakan seorang pesilat terbaik, akan belum tentu bisa MENARI.

Ketika pemahaman kita masuk pada keseharian mereka, kita akan melihat betapa gagah dan kokoh, dengan dagu terangkat, tanpa terkesan sombong. Tidak terlihat angkuh saat berdiri serta melangkah di jalanan.
Selain terkesan ingin mendampingi ketinggian langit yang jadi simbol pesilat sebagai seorang Ayah.

Sebagaimana pengetahuan kita selama ini, seorang penari duduk harus dengan punggung lurus dan tegak secara kokoh. Padahal mereka duduk selalu dalam keadaan condong ke depan, bersila dan malahan sering kali terlihat bagaikan bersimpuh dengan posisi tubuh hampir sejajar dengan lantai tempat mereka duduk.

Rasa hormat begitu sangat dalam pada bumi, yang mereka anggap Ibu. Sehingga mereka begitu sangat mengerti untuk tidak duduk dengan pinggul secara utuh.

Bumi adalah Ibu yg mereka tandai membungkuk, menekankan ujung jari ke tanah, dan kemudian membawanya mengusap kening, menatap langit sebagai simbol Ayah, sebagaimana penghormatan yang biasa dilakukan dalam tata cara ritual silat.

Situasi kondisi itu, selalu akan terlihat dan tampak terus terjadi pada setiap aktivitas di dalam lingkungan sasaran silat.

Sekali lagi, keterlibatan lingkungan memperlihatkan peran pada setiap keberadaannya, untuk apa tubuh ada di sana.

Kehadirannya memang ditunggu, karena suatu kebutuhan guna memberi nama yang bermakna.

Sebagaimana halnya dunia. Bumi memerlukan kita sebagai sebuah kebutuhan terhadap keberadaan manusia.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.