“I Am” Karya Tari M. Iqbal Kurniawan Pada RIF 2017

789
Karya tari I Am oleh M. Iqbal Kurniawan pada Main Performance hari pertama (13/5/2017) di teater kecil, TIM, foto : kabanews.com

KABANEWS.COM – M. Iqbal Kurniawan, penari dan koreografer dalam koreografinya berjudul I Am, lahir di Riau 20 tahun yang lalu. Mahasiswa ISI Padang Panjang yang telah menjajaki semester 4 ini, tampil pada hari pertama Main Performance Ragam International Festival 2017, diurutan terakhir, pada Sabtu (13/5/17) di Teater Kecil TIM.

“I Am” (Aku), merupakan karya bersama yang ditata oleh M. Iqbal Kurniawan, Aditya Warman, Yogi Afria M. Yusuf adalah tentang ke egoisan, keserakahan, dalam meraih kesuksesan”, kata Iqbal, “Diinterpretasikan melalui simbol dasi merah yang mengalung pada leher penari, dasi itu adalah interpretasi jabatan, kedudukan yang ingin diraih” lanjutnya, “Dihormati, disegani, dan disanjung, merupakan sifat manusiawi setiap orang. Tak jarang ketika ingin mendapatkan kedudukan tinggi tersebut, manusia saling bersaing dengan cara yang kotor. Homo Homini lupus, manusia satu memangsa manusia lainnya. Mengorbankan orang lain demi mendapatkan keinginannya”, sinopsis.

Koreografi “I Am”, pada malam itu membuka tariannya dengan solo, dari sudut kanan panggung, ia menyentak nyentak kan tubuhnya, seperti menahan emosi, energy yang ia tahan ingin meletup, berontak dan ingin lepas. Raga masih kuasa menahan rasa-emosi ini, seiring gerak dan gesture tubuh yang semakin mengecil, kian menutup, sambil terus sesekali menyentak, ingin membuka gerak, membesar, menyiratkan kuasa diri pada raga masih berlaku untuk menahan ambisi.

Kejadian tubuh itu berlangsung mungkin dalam kisaran 1,5 menit atau mungkin lebih sedikit, greget terasa pada awalnya kuat , karena gerakan kecil-kecil yang tertahan itu menyimpan energy yang ingin di tumpahkan, keingintahuan untuk mengikuti peristiwa tubuh selanjutnya menimbulkan pertanyaan-pertanyaan, di benak, berharap ada peristiwa lagi, ada sesuatu lagi dan lagi, di gerakan yang akan menjadi kejutan selanjutnya, ingin ada sesuatu yang mengesan pada pikiran dan imaginasi, sebagai kenikmatan dari penghayatan esensi.

Tubuh iqbal, tubuh jumawa, walau sempat terasa buyar pada beberapa saat berikutnya, disambut kehadiran dua orang penari yang lainnya, kejumawaan disimbolkan dengan gerak menepuk dada, membusung dan mendongak.

Pengembangan gerak pada alur gerakan berikutnya, penari-penari itu menari bertiga, tubuh mereka terlatih, dengan mudah melakukan gerakan-gerakan berteknik, gesture kejumawaan tetap dipertahankan, ia adalah ambisi, keserakahan, ketamakan dan keegoisan. Gerak rampak yang kompak terus berpencar, sendiri-sendiri, berdua, menindih, menyampaikan maksut persaingannya, perseteruannya untuk meraih keinginannya.

Koreografi ini kuat secara kepenarian dan pola komposisi, hanya ke-teaterikal-an yang terasah dan lebih memfokuskan pada gerak, akan menghasilkan gerak gerik yang bermakna, simbol, gesture, garis. Sebagai sebuah rangkaian ungkapan yang sublim (terolah/tersaring).

Pada suatu adegan seakan menyinyiri, tubuh seperti meminta untuk ingin dimengerti, tidak perlu untuk nyinyir, cukup sebagai sebuah tanda yang dapat memberikan kesan, ia akan membuat makna, membekas kuat pada pikiran.

Rasa ingin tahu (penasaran) buyar apabila kenyinyiran itu tidak mempertimbangkan alur tutur dalam bahasa gerak, berpuisi atau ingin bercerita, tidak mengapa. Opening menjadi guide imaginasi pada babak berikutnya, pada format tari kontemporer ia pun bukan suatu keharusan, akan tetapi apabila ia telah memulainya dengan statement, kekuatan statement jangan dicairkan dengan keambiguan.

Karya Iqbal mendapat sambutan yang meriah oleh penonton tari malam itu. Iqbal beserta dua orang penarinya sebagai sosok penari yang kuat secara teknik, tubuhnya terolah, memungkinkan iqbal dan penarinya lebih selektif untuk menggunakan gerak dalam setiap penyampaian pesannya, dinamis, teaterikal, ciri sebuah garapan teater tari yang ia akui juga terinspirasi dari Ali Sukri, koreografer seniornya, dosennya.

Di atas panggung Iqbal terlihat tersenyum, diselingi nafasnya yang tersengal, ia tetap tersenyum. Teman-teman ISI Padang Panjang-nya yang kebetulan duduk pada barisan bangku dibelakang saya, memberi applaus, menyemangati, seiring tepuk tangan penonton lainnya, riuh penonton pada penutup rangkaian Main Performance, Hari 1 itu.

Indra Zubir

Baca juga : Closing Helat Tari, Ragam Internasional Festival 2017

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.