JDMU “Jakarta Dance Meet Up” Program Pemetaan Komunitas Tari di Jakarta, Kenapa di Peta kan?

540
Pertemuan pers Jakarta Dance Meet Up (JDMU) di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia West Mall Lantai 8, dari kiri : Rusdi Rukmarata, Hartati, Adinda dan Yola Yulfianti, foto : kabanews.com

KABANEWS.COM – Jakarta Dance Meet Up (JDMU) yang akan diadakan besok 31/3/17 di Gedung Kesenian Jakarta, barangkali program ini adalah program yang baru pertama kalinya terjadi, begitu kata Hartati dalam pers konferens yang di adakan oleh Dewan Kesenian Jakarta di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia West Mall Lantai 8 (29/3/17), pertemuan pers ini dihadiri oleh para koreografer yang mewakili komunitas tari nya masing-masing.

Dalam pandangan Hartati selama ini komunitas tari di Jakarta berjalan sendiri-sendiri, tidak ada yang menghubungkan antara mereka satu sama lain, maka Komite Tari DKJ kali ini “ingin” bagaimana mereka dapat saling terhubung, saling berbagi pengalaman, wawasan dengan cara program pertemuan tari di Jakarta.

“Kita komite tari ingin tujuan ini tidak hanya saling terhubung , bagaimana mereka bisa saling belajar, bertukar wawasan tapi juga sebuah mapping tentang komunitas tari yang barangkali belum pernah dilakukan Dinas Pariwisata wilayah DKI. Mapping komunitas tari selama ini masih terfokus untuk tari tradisi yang ada di Jakarta. Dengan JDMU ini, “kita” ( Komite Tari DKJ ) sangat ingin semua orang tahu bahwa di Jakarta tidak hanya punya komunitas tari tradisi tapi juga ada komunitas tari modern, ada sekolah balet, sekolah tari kontemporer, kemudian juga ada sanggar tari tradisi, sanggar-sanggar tradisi yang kontemporer, dan lain-lain. Kita harus perlihatkan pada masyarakat Jakarta bahwa beginilah dunia tari di Jakarta” ujar Hartati.

Pertemuan komunitas tari di Jakarta “JDMU” diharapkan dapat didukung oleh komunitas-komunitas tari untuk melakukan pemetaannya, program yang tadinya direncanakan dapat berjalan setiap 2 bulan sekali, setelah melihat kenyataan di lapangan dilakukan di bulan Maret, Agustus dan Oktober.

“Tahun 2017 kita open quote, jadi kita mendata sendiri melalui link yang kita publish dan kita tidak mengkurasi karya mereka , artinya mereka bekerja sesuai dengan cara yang biasa mereka kerjakan, tapi kita berharap mereka “berkarya” dengan durasi 20 menit. Biasanya mereka punya karya-karya pendek 5 menit, 7 menit, maka dalam JDMU mereka kemudian menyiapkan durasi pertunjukan 20 menit dengan 3 atau 2 koreografer. Kemudian produksi JDMU pun dilakukan oleh komunitas itu sendiri, Komite Tari hanya penggagas, gagasan komite tari adalah : Bagaimana merealisasikan. Kita mengundang komunitas-komunitas yang bersedia untuk bekerja menyiapkan produksi JDMU, mereka yang mengerjakan, mereka yang melakukan, menyiapkan semua kebutuhan untuk program ini agar dapat terlaksana”.

“DKJ sama sekali tidak memberikan uang produksi apapun kepada mereka, memang ternyata anak-anak muda kita punya keinginan untuk berkarya, buktinya dengan JDMU pendaftaran tahun ini “sepertinya” telah memenuhi quota. Komunitas-komunitas yang tampil di Maret ini sengaja kita minta kesediaannya untuk mau tampil di bulan ini, sekaligus juga melaunching program ini. Kita ingin JDMU dapat perhatian dari masyarakat tari jakarta, jabar Hartati”.

Kemudian Rusdi Rukmarakta sebagai anggota Komite Tari melontarkan harapan, “Pada masa yang akan datang diharapkan JDMU bahkan bisa mempunyai asosiasi sendiri dan dijalankan sendiri oleh para komunitas di Jakarta, dari berbagai aliran, per masing-masing aliran mungkin sudah ada, seperti balet sudah ada asosiasi sendiri, beberapa daerah juga sudah ada, sesuai tari daerah masing-masing. Tapi kalau bisa, kita memang mau melahirkan dalam waktu jangka panjang asosiasi yang meliputi semua aliran yang ada tersebut, bisa saling tukar informasi, sharing pengetahuan, mengadakan workshop, dan lain-lain, ini baru sebatas mimpi”.

“Untuk sekarang sudah ada volunteer yang serius dari komunitas, dari produksinya, kita harapkan nanti pelaksanaan kedua dan ketiga para peserta juga mengirimkan team produksinya, tidak hanya perform tapi juga ikut membantu kepanitiannya. kita di JDMU ini dengan latar belakang ingin melihat koreografer-koreografer muda yang punya karakter dirinya sendiri walaupun dari aliran tertentu, tapi ini karena kita bukanya free , tidak ada kurasi, karena ini bukan lomba, tidak terikat kriteria, tidak terikat pada kebutuhan, ini benar-benar kebutuhan si koreografer muda ini “saya kepingin menampilkan seusuatu yang ini untuk publik”, kita harapkan forum JDMU ini dapat memfasilitasi keinginan mereka tersebut sehingga nantinya bisa menjadi koreografer-koreografer yang melegenda, harapan Rusdi”.

Dan apakah yang diharapkan dari program JDMU ke depannya?
Yola Yulvianti sebagai moderator melontarkan pertanyaan kepada Helly Minarti yang juga merupakan anggota komite tari DKJ ” Adakah jejaring atau networking seperti program ini?.

Helly Minarti sebagai pengamat tari yang lebih memfokuskan amatannya pada wacana tari kontemporer menjelaskan “Banyak forum yang sesuai dengan karakter dari program JDMU bahkan di Singapura ada company yang seperti itu. Di kontemporer memang ada forum-forum yang menampilkan karya-karya tari seperti di JDMU, misalnya T-PAM di Tokyo yang lebih memfokuskan pada performance, Yokohama Dance Collection yang lebih berdasarkan kompetisi, ada form yang lebih kecil – forum lintas disiplin di Taipei, banyak yang organik banyak juga yang muncul dan kemudian menghilang, tergantung kebutuhan “konteks” saat itu.

Pers konferens yang mestinya di hadiri oleh dua pengamat , salah satunya pengamat karya artistik Benny Krisnawardi yang kebetulan berhalangan hadir.

Salah satu pembicara lagi adalah Adinda sebagai pengamat management komunitas yang punya pengalaman berkomunitas dari tahun 99 hingga sekarang, membahas tentang management sebuah pengelolaan komunitas dan pertunjukan tari. “Ini merupakan peluang yang baik yang mungkin terlambat akan tetapi, komite tari telah melaksanakan salah satu fungsi dari DKJ yaitu memberikan edukasi yang didalamnya adalah regenerasi. Apresiasi yang menarik juga yang telah dilakukan oleh komite tari DKJ, sudah memberikan management yang dilakukan oleh mereka sendiri seperti swakelola karena pasti juga berbeda yang dilakukan management yg dilakukan DKJ yang juga harus berkembang.

“Saya berharap dalam JDMU ini, para koreografer yang berada di komunitas dapat dipersatukan, bukan persepsi, akan tetapi untuk menyamakan “gerakan” bagaimana ke depannya. Saya berharap dari JDMU ini akan menjadi sebuah festival tari nasional -internasional yaitu pertemuan komunitas-komunitas yang telah melakukan perjalanan bertahun-tahun dan tidak punya tempat untuk mempresentasikan karyanya. Satu hal lagi yang selama ini terjadi, dalam komunitas itu, mereka membuat program hanya ketika ada order, misalnya menjadi penari dalam seremonial-seremonial. Ketika tidak ada order apabila melakukan latihan-latihan tanpa target, terasa berat bagi mereka, karena anak-anak akan bertanya kapan akan dipertunjukkan?” ungkap Adinda.

Menurut Adinda yang kemudian menyorot tentang pentingnya management sebuah gagasan “Ketika tidak ada event seperti JDMU ini “Gagasan harus tetap muncul” membuat gagasan menjadi sebuah program kadang-kadang juga terlewat di beberapa komunitas, akhirnya tidak ada karya-karya yang signifikan disetiap tahunnya atau di waktu-waktu tertentu tidak menghasilkan gagasan baru untuk karya.

“Sebetulnya ada hal sebelum tari yang mesti terus dikembangkan seperti : narasi, mitologi, satra dan banyak hal lagi sebelum menjadi sebuah konsep tari. Biasanya hal sebelum tari ini yang sering dilewati karena sudah terbiasa ketika memiliki gagasan , langsung membuat tari, karena menganggap tari adalah konsep-konsep yang sudah jadi di orang-orang terus kita yang mengembangkannya” terang Adinda.

Indra Zubir

Baca Juga : Perdana “Jakarta Dance Meet Up” (JDMU) 2017, Telah Dilaunching di Gedung Kesenian Jakarta

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.