Jejak Gusmiati Suid, Seniman dan Koreografer Minangkabau

1802
Seruan, karya Gusmiati Suid (almh), foto : pmpstnua.blogspot.com

KABANEWS.COM – Gusmiati Suid (almh) seniman, budayawan perempuan asal Batusangkar Propinsi Sumatera Barat.

Lahir di Batusangkar, 16 Agustus 1942, dengan nama Syarifa Gusmiati, dari pasangan suami istri Gasim Shahab dan Ashia.

Sejak kecil tumbuh besar bersama Bapak Suid, yang kemudian nama Suid melekat di belakang namanya. Hingga akhir hayat nama Gusmiati Suid lebih dikenal dibanding nama aslinya Syarifa Gusmiati.

Sejak usia 4 tahun Gusmiati Suid belajar silat Kumango pada pamannya bernama Wahid Sampono Alam, seorang pendekar silat Kumango yang cukup disegani masa itu.

Tahun 1982 Gusmiati Suid mendirikan sanggar tari di Batusangkar. Diresmikan dan diberi nama Gumarang Sakti oleh Azwar Anas Gubernur Sumatera Barat kala itu. Gumarang Sakti juga nama dari seekor Kuda Putih Sakti yang melegenda di Minangkabau Sumatera Barat.

Sejak berdirinya sanggar Gumarang Sakti, Gusmiati Suid mulai giat berkarya dan membina penari, pemain teater dan pemusik.

Pada tahun 1980an Sanggar Gumarang Sakti sudah dikenal di pulau Sumatera. Hampir pada setiap festival-festival tari dan teater, Sanggar tari Gumarang Sakti meraih gelar juara dan penampil terbaik di setiap festival yang diikuti. Ini membuktikan bahwa Kelompok Tari yang di pimpin oleh Gusmiati Suid ini selalu melahirkan karya-karya tari yang berkwalitas.

Karya-karya tari Gumarang Sakti antara lain tari Rantak, Alang Babega, Panen, Gandang Sakato, Limbago dan masih banyak lagi karya-karya tari lain yang sudah di kenal oleh insan seni tari di Sumatera Barat.

Hampir semua karya-karya tari yang dihasilkan Gumarang Sakti, berpijak kepada konsep seni tradisi silat, bakaba dan teater tradisi Randai yang ada di Minangkabau.

Nama Gusmiati Suid di era 80an tercatat sebagai seorang Seniman dan Koreografer wanita Minangkabau yang cukup disegani di wilayah Sumatera bahkan Indonesia. Akan tetapi sangat disayangkan, karya-karya tari Gusmiati Suid tidak terlalu dikenal lagi oleh generasi muda sekarang.

Dalam berkarya Gusmiati Suid tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah ia ciptakan. Ini terlihat ketika Gusmiati Suid sedang melakukan proses penciptaan karya, ia selalu meluangkan waktu untuk mengasah kemampuan anak didiknya dengan cara latihan teknik silat dan eksplorasi gerak tari setiap hari, dengan penuh disiplin, langsung di bawah pengawasannya.

Di samping itu untuk memperkaya material gerak dan format penyajian yang dibutuhkan dalam karyanya, Gusmiati Suid terus mempertajam pengetahuan akan kekayaan seni dan budaya Minangkabau dengan melakukan penelitian ke berbagai daerah di Sumatera Barat. Hal itu agar pemahaman atau pengetahuan tentang seni budaya Minangkabau semakin di perkaya.

Pemahaman khasanah Minangkabau yang semakin hari semakin bertambah, justru membuat Gusmiati Suid semakin gelisah, karena menurutnya banyak sekali kesenian-kesenian tradisi Minangkabau yang unik dan menarik belum diketahui oleh masyarakat luas.

Kegelisahan itu mendorong Gusmiati Suid untuk terus berproses melahirkan karya-karya baru, agar bisa mengangkat atau memperkenalkan seni tradisi Minangkabau ke masyarakat luas.

Hijrah ke Jakarta

Sejak berdirinya sanggar Gumarang Sakti, Gusmiati Suid selalu membina hubungan silahturahmi dengan siapapun, terutama insan seni dimanapun berada. Hal tersebut ia lakukan untuk memperluas khasanah budaya serta menambah ketajaman berfikir serta kepekaan dalam menangkap gejala sosial yang semakin hari semakin berkembang.

“Baguru ka Alam Takambang” (Berguru ke Alam Terkembang), yang merupakan salah satu falsafah orang Minangkabau rupanya telah jadi prinsip Gusmiati Suid dalam mengarungi kehidupan yang ia jalankan.

Dunia tari yang dijalankan Gusmiati Suid merupakan profesi yang berat bagi seorang wanita. Di samping tanggung jawab sebagai seorang ibu bagi anak-anak dan keluarganya. Hal itu sangat ia sadari.

Seiring waktu berjalan, kreatifitas dunia taripun terus bergerak, menggeliat menghadapi berbagai tuntutan yang berbeda, memerlukan kearifan, kesabaran serta kesungguhan untuk menjalankannya.

Gusmiati Suid menangkap fenomena alam yang selalu mengusik kreatifitas jiwa kesenimanannya terus “bergerak” maju. Maka untuk menyikapi semua itu, ia mengambil sikap untuk merangkul, bergaul dan berdialog dengan siapa saja secara lebih luas, agar apa yang dibicarakan dalam setiap karyanya, dapat tersampaikan dengan baik. Maka tahun 1984 Gusmiati Suid Hijrah ke Jakarta.

Keputusan untuk hijrah ke Jakarta karena menurut Gusmiati Suid, Ibu kota tempat yang ideal untuk mengembangkan dan memperkenalkan seni tradisi Minangkabau. Di samping itu Kesempatan dan peluang berkarir dalam dunia seni lebih banyak di ibu kota dibandingkan di daerah.

Gusmiati Suid berharap di ibu kota ia bisa berdialog dengan berbagai seniman multi etnis, multi disiplin ilmu, untuk menambah wawasan berkeseniannya secara baik, yang pada akhirnya tidak menutup kemungkinan akan bisa melahirkan karya yang lebih baik pula.

Karya tari Limbago merupakan karya tari perdana Gusmiati Suid sejak beliau menetap di Jakarta. Karya tari ini tampil pada Festival Koreografi 1987 di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, dan mendapat sambutan yang baik dari kalangan seniman tari Indonesia saat itu. Beberapa bulan setelah itu, Gumarang Sakti mendapat kesempatan tampil pada festival tari di Calcuta India.

Festival tari di Calcutta India inilah menurut Gusmiati Suid, “Jalan mulai terbuka lebar untuk Gumarang Sakti dalam menapaki kiprahnya di kancah tari Dunia”, begitu penuturan Gusmiati Suid (alm) ketika dalam proses karya semasa hidupnya.

Hampir setiap tahun Gusmiati Suid bersama sanggar Gumarang Sakti tampil di berbagai festival tari berskala Nasional maupun International, seperti Indonesia Dance Festival, Art Summit Jakarta, Performing Art Academy Festival di Hongkong, De Labaule Performing Art Academy festival Perancis, In Transit Festival di Berlin, KIAS festival di Amerika Serikat dll.

Bahkan sewaktu KIAS festival di Amerika Serikat tahun 1991 Gumarang Sakti mendapat penghargaan tertinggi sebagai grup tari penampil terbaik dan dapat menarik penonton terbanyak ketika tampil di gedung pertunjukan Joice Theatre, yang merupakan salah satu gedung pertunjukan bergengsi di New York Amerika Serikat.

Padahal ketika sebelum keberangkatan Gusmiati Suid pada program KIAS ini, banyak penilaian “miring” dari berbagai pihak termasuk pemerintah akan karya yang akan dibawa Gusmiati Suid saat itu.

Penghargaan itu sangat berpengaruh pada nama baik Gusmiati Suid, sehingga nama Gusmiati Suid mulai saat itu masuk kepada jajaran nama nama besar seniman tari dunia.

Perjuangan panjang seorang Gusmiati Suid yang berasal dari kota Batusangkar, tidak sia-sia. Walaupun ia hanya sebagai perempuan kampung biasa, namun kecintaannya akan budaya Minangkabau ia tunjukkan di pentas tari dunia. Selayaknya apa yang telah diperjuangkan Gusmiati Suid bersama Sanggar Gumarang Sakti , patut diberi apresiasi dan juga inspirasi bagi generasi muda apalagi pemerintah.

Kini nama Gusmiati Suid dan Gumarang Saktinya hanya tinggal kenangan. Karya-karya serta penghargaan yang diraih Gusmiati Suid bersama Gumarang Sakti, melalui tahapan-tahapan panjang yang melelahkan itu, kini seakan hilang dan pergi bersama wafatnya Gusmiati Suid pada tanggal 28 September 2001 hari Jum’at pukul 4.30 wib di rumah sakit Era Medika Jakarta.

Semoga tulisan ini bisa mengingatkan kita pada sosok Gusmiati Suid, seniman dan budayawan asal Batusangkar Sumatera Barat, yang berjuang tanpa lelah mengangkat seni tradisi leluhur Minangkabau ke pentas tari dunia.

Benny Krisnawardi
Murid / asisten Koreografer Gusmiati Suid (almh)
Yogyakarta, 20 Oktober 2014

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.