Kepusingan Rama Dalam EKI Update V2.1

577
Adegan Mini Musikal Lagu Rama Ragu dalam EKI Update V2.1 di Gedung Kesenian Jakarta (17/5/2017), foto : EKI Dance Company

KABANEWS.COM – Pergelaran EKI Update v2.1 #In Art We Unite yang menghibur, sekaligus juga kritis dan kocak, di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru (16-17) Mei 2017 kali ini lebih beragam, lebih eksploratif dari pertunjukan yang sebelumnya, bekerjasama dengan berbagai genre seni, mulai dari menyanyi, DJ, Elektronik Dance Music, film, mini musikal, dan lain-lain, EKI juga melibatkan sanggar tari Minang Limpapeh yang menampilkan repertoar tarinya berjudul “Bujang”.

Dipimpin oleh Eeng Koti yang sekaligus adalah juga koreografernya, Eeng bekerja sama dengan putri kandungnya Putri Jingga Aura dalam menggarap koreografi Bujang, mengisi satu babakan dalam rangkaian pertunjukan EKI malam itu, Rabu (17/5/2017). Koreografi “Bujang” ditarikan oleh anak-anak asuh Eeng, mayoritas pelajar yang masih duduk di bangku SMP.

“Bujang adalah sebutan anak laki-laki di Minangkabau. Bujang bertugas menjaga dan mendidik anak perempuan serta harta pusaka yang diwariskan oleh orang tua mereka hingga ajal menjemputnya”, terang Eeng Koti.

Dalam #In Art We Unite, sebagai sebuah isyu kekinian, EKI mengusung tema tentang kebersamaan dalam keberagaman, dalam tanya jawab rileks antara MC dengan Aiko Senosoenoto, Aiko menjelaskan tentang kenapa #In Art We Unite?, “Karena sekarang justru kita terpecah-pecah oleh perbedaan, tapi mulai dari seni sebenarnya kita mulai kembali menggalang kebersamaan, karena dari kebersamaan sebenarnya bisa lahir karya, prestasi yang jauh lebih baik dari karya-karya individu”, kata Aiko.

Dalam dialog  tanya jawab antara MC Uli Herdiansyah dan Alim Studio, Aiko Senosoenoto selaku produser eksekutif EKI Dance Company juga menjelaskan dalam tanya jawab itu, tentang program Yayasan EKI “Rencananya EKI mau bikin kelas-kelas ke sekolah-sekolah tapi masih diatur programnya seperti apa, karena kita maunya kalau sudah memulai, bisa berkesinambungan, oleh karena itu untuk awalnya kita mengundang ke sekolah-sekolah yang mau menonton dan dapat menonton gratis. Untuk kali ini yang kami undang adalah dari SMA 111 dan dari SMK Amerta untuk bisa nonton bersama-sama”, terang Aiko.

Kemudian Uli dan Alim melanjutkan pertanyaan, meminta Aiko untuk memperkenalkan koreografer muda EKI Dance Company,  diantaranya : Siswanto ‘Kojack’ Kodrata, “berpenampilan masih muda tapi umur sudah cukup, makanya kalau mau awet muda, nari”, ujar Aiko, “Nari itu sebuah anti aging juga ya”, sambung Uli sang MC, terus ada koreografer muda lagi Gede Wiryatara “sering rematik, asam urat, mata rabun tapi ahli jumpalitan” canda Aiko, ada Takako Leen “masih umuran 17 tahun menurut penilaian penonton, penonton memang bijaksana” sambut Aiko, terus ada Yuliani Pranoto “penganten baru, cerah ceria, ada yang bilang jadi penari susah kawin, Juliani sudah menembus itu”, kata Aiko, ada Kresna Wijaya “botak karena sering dibuli seniornya”, canda Aiko lagi. “Itulah mereka koreografer-koreografer yang sungguh-sungguh masih muda, mereka-mereka yang berkarya malam ini termasuk juga Rusdy Rukmarata dan teman-teman”, tutup Aiko.

Tanya jawab yang cair dalam canda dan keakraban itu memancing tawa, menggiring penonton dalam suasana keakraban.

Keakraban ini menjadi ciri dari pergelaran EKI Update v2.1. Dikota metropolitan, hiburan dan gaya hidup mencerminkan selera, manusia mencari rasa nyaman dalam setiap aktifitasnya, seperti bekerja, berhibur, maupun bersosialisasi. Pertunjukan EKI mengajak penonton Jakarta merasakan keberagaman, dalam selera rasa mix-kolaborasi yang harmonis. Ada nyanyian, tarian, elektronik dance musik, film, permainan tata lampu, kostum dan property, merangkai sebuah pertunjukan yang menghibur, kadang romantis dan kadang heroik dalam arahan Sutradara Rusdy Rukmarata.

Di bagian penutup rangkaian pertunjukan EKI update v2.1, tampil Mini Musikal berjudul Lagu Rama Ragu,“Rama mengutarakan kepusingannya mengenai Shinta yang telah berhasil ia peristri melalui sayembara, ia berpikir akan selamanya bahagia, namun ternyata, Shinta adalah perempuan yang penuh tanda tanya. Rama pun mulai ragu. Lalu ada Sarpakenaka, perempuan raksasa yang senantiasa bebas dan apa adanya. mungkinkah Sarpakenaka adalah idaman Rama yang sesungguhnya? Bagaimana jika Rahwana tahu bahwa adiknya terombang ambing dalam perasaan cinta dengan Rama?, terang sinopsis.

Mini musikal yang kocak tapi mengkritisi, kekocakan yang terlontar dalam kata dan gerak dalam mini musikal “Lagu Rama Ragu” ini mengalir seperti mendengar cerita rakyat dalam versi baru, gambaran tentang perempuan ideal dalam hasrat Rama yang terpendam adalah perempuan yang dinamis, agresif dan blak-blakan, apa adanya, bukan seperti Shinta yang lempeng, Shinta juga diibaratkan sebagai seorang perempuan cantik dan kaku telah  berhasil dipersunting oleh Rama karena memenangkan sayembara yang kemudian disindir oleh Sarpakenaka sebagai sebuah “pajangan” belaka seperti piala. Sarpakenaka di duga sebagai selingkuhannya Rama.

Sosok Shinta adalah sosok perempuan berkelas yang kaku dengan segala kelebihannya, kecantikan, tahta dan harta.

Lakon cerita cinta Rama Shinta yang biasa kita dengar dalam cerita pewayangan, disadur kedalam konflik persoalan zaman sekarang, ketika tuntutan akan kejujuran dan apa adanya menjadi nilai utama sebuah kepribadian yang diidam-idamkan.

Indra Zubir

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.