Makna Berputar Tarian Sufi “Whirling Dervish”

849
tari sufi, foto : istimewa

KABANEWS.COM РTarian Sufi atau Whirling Dervish, pada perjalanan sejarahnya ternyata pernah dilarang Mustafa Kemal Ataturk pada tahun 1391 H/1923 M dan pada akhirnya boleh ditampilkan kembali pada 1373 H/1954 M. Tarian yang pada hakikatnya adalah zikir ini, bergerak berputar melawan arah jarum jam, mengenakan kostum khas (jubah) berwarna putih yang melambangkan kain kafan membungkus ego, topi memanjang yang disebut Sikke melambangkan batu nisan para wali dan sufi di dataran Timur Tengah. Jubah hitam melambangkan alam kubur yang ketika dilepaskan melambangkan kelahiran kembali menuju kebenaran.

Gerakan yang terus berputar ini menggunakan kaki kiri sebagai poros putaran, sementara kaki kanan melakukan dorongan putaran, tangan kanan penari menengadah ke atas sebagai simbol kesiapan untuk menerima hidayah dari sang pencipta, sementara tangan kiri menghadap ke bawah sebagai simbol penyebaran energi positif sekaligus menyerap energi negatif dari dan ke setiap hati manusia. Simbol tangan ini juga sebagai hablum minallah dan hablum minannas yaitu hubungan vertikal antara manusia dengan penciptanya, horizontal simbol manusia sebagai makhluk sosial. Gerakan yang melawan arah jarum jam sebagai simbol putaran dalam tawaf.

Dalam Rubaiyat Rumi-Insace with Love, segala sesuatu di jagat raya ini, mulai dari atom terkecil sampai planet terbesar, berputar pada sumbunya. Gerakan revolusi yang terus-menerus tidak pernah berhenti begitu mendasar bagi kerja alam semesta. Hanya melalui partisipasi secara sadar kepada gerakan, pengikut sufi berpendapat bahwa mereka bisa bersatu bersama energi Tuhan. Melalui upacara dan praktik berputar-putar, para penari darwish bisa meninggalkan dunia dan meloncat ke alam lain yang di dalamnya bisa dirasakan begitu kuat aliran derasnya kemanunggalan dan energi fana.

Banyak pendapat tentang asal muasal gerak berputar itu masuk ke dalam kehidupan ar-Rumi. Salah satunya pendapat tentang gerakan berputar ini yaitu : Syamsuddin at-Tabrizi pernah mengajarkan tarian tersebut kepada ar-Rumi. Pendapat lain mengatakan bahwa tarian tersebut berawal ketika ar-Rumi berduka saat kepergian dan hilangnya Samsuddin at-Tabrizi. Menurut keterangan tersebut, ar-Rumi berada di kebun pada suatu sore ketika ia sendirian dan hanya ditemani rasa duka. Di kebun itu terdapat pilar tinggi, di mana satu pilar dengan yang lainnya dihubungkan terali yang menjadi tempat merambatnya anggur dan daun ara. Ar-Rumi bersandar pada pilar-pilar itu, menangis, dan tubuhnya bergetar. Sambil memegang salah satu pilar dengan satu tangan, ia mulai berputar mengelilingi pilar tersebut. Semakin lama, ia berputar semakin cepat dan tidak kuasa dihentikannya sampai duka dan sakit yang ia rasakan hilang.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.