Mencari Penghulu di Ranah Minang

630
rapat adat nagari, mencari penggati penghulu yang meninggal, medan suri, balingka, foto : kabanews.com

KABANEWS.COM – Dalam pepatah mengatakan, apabila seorang Penghulu meninggal dunia, kaum dari Penghulu tersebut diibaratkan “Ijuak ndak basaga, lurah ndak babatu” yang artinya, kaumnya tidak ada rajanya lagi (tak ber Penghulu).

Kalau adat di Minangkabau ini, apabila pesukuan tidak ada penghulunya lagi, akan menurunkan derajat kaumnya sendiri.

Maka apabila Penghulu suatu suku meninggal dunia, sebutlah Penghulu suku Koto atau Sikumbang, maka diadakanlah rapat nagari untuk memilih Penghulu yang baru bagi kaum tersebut.

Cara Memilih Penghulu

Dikumpulkan anak kemenakan, “Nan sapayuang sapatagak, nan salingka cupak adat” maka dipilihlah “seseorang” yang akan diangkat jadi Penghulu “Kapai tampek batanyo, ka pulang tampek babarito di anak dan kamanakannyo”

Ketika Penghulu sudah didapatkan, dibawalah ke lembaga ninik mamak ampek suku.

“Bajanjang naiak batanggo turun”, berdiri Penghulu basarato jo wakilnyo (beserta wakilnya), dan dilewakan (diberi tahu) kepada empat suku.

Dalam budaya Minang, mendirikan Penghulu harus bantai kerbau, sesuai kemampuan, kalau mampu “sapu lantai” dibantailah seekor kerbau. Akan tetapi ada pesukuan yang
kaya, ditambahlah seekor jawi (sapi), berbantai kerbau dan jawi (sapi).

Adat bantai kerbau ini bertujuan untuk memberi makan satu Nagari. Dibuat baralek sanagari, silih berganti orang yang akan datang, kalau tidak ada kemampuan untuk mengundang orang banyak, maka yang patut-patut saja yang diundang, atau penghulu saja, bisa juga lembaga saja, sama saja sah nya.

Dalam baralek Penghulu itulah, nanti ada sambah manyambah/batitah/petatah – petitih, budaya sastra lisan yang sudah ratusan tahun mengakar di Ranah Minang, saling sahut menyahut, dengan tata caranya tersendiri.

Perlu diketahui, bahwa Penghulu adalah Andiko di Nagari, Andiko ini sama fungsinya dengan anggota DPR, di nagari Balingka ini Andiko atau anggota DPR nya ada 60 orang.

KAN, itu lah lembaganya, di setiap nagari ada KAN (Kerapatan Adat Nagari), lembaga permusyawaratan adat.

Sumber : Dt. Malano

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.