Mesjid Jin di Malang

140
mesjid jin atau mesjid tiban, foto : istimewa

KABANEWS.COM – Di Kabupateng Malang, Jawa Timur ternyata ada destinasi wisata religi yang kerap menjadi tujuan turis asing. Tempat itu bernama Masjid Jin atau ada juga yang menyebutnya Masjid Tiban.

Lokasinya ada di RT 27/RW 06, Desa Sananrejo, Kecamatan Turen. Mayoritas sopir angkutan atau taksi lokal sudah hafal jika ditanya rute menuju daerah itu.

Barangkali inilah satu-satunya masjid unik di Jawa timur maupun di Indonesia yang sejak dibangun tahun 1978, hingga kini belum juga selesai. Bahkan, bisa jadi tidak akan pernah rampung.

Pasalnya, gedung 10 lantai yang berdiri di lahan seluas 6,5 hektare itu dibuat tanpa ada gambar rancangan atau desain.

Kabarnya, desain bangunan tempat ibadah itu dibangun hanya semata-mata dengan mengandalkan mata batin melalui salat Istikharah.

Namun, soal popularitas masjid ini tak perlu diragukan, namanya sudah terkenal di sampai ke luar negeri, terutama di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Buktinya, hampir setiap hari, selalu ada pengunjung dari negeri jiran yang datang ke masjid tersebut.

Lantas, mengapa disebut ”Masjid Jin” atau ”Masjid Tiban”? Benarkah banyak misteri di dalamnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkesan sengaja dibiarkan berkecamuk liar di tengah-tengah masyarakat.

Hinggap dari satu anggapan ke anggapan lainnya tanpa ada jawaban yang jelas. Dan, itu terjadi sampai sekarang.

Dari penampakannya ”Masjid Jin” memiliki ratusan menara. Tapi, jika melihat dari papan nama yang terpampang di pintu masuk ”Masjid Jin”, jelas tertulis: Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah.

Untuk mengulik lebih jauh tentang isi ”Masjid Jin” tersebut, tim Jawa Pos, Radar Malang mencoba ‘membeda’ misteri masjid ini.

Merujuk pada papan nama itu, bangunan utama sebenarnya bukanlah sebuah masjid. Melainkan, sebuah pondok pesantren (ponpes).

Bagi pengunjung yang ingin menjelajah di ”Masjid Jin” atau ke ponpes itu, sudah ada rutenya. Mereka tinggal mengikuti petunjuk arah yang sudah disediakan.

Jadi, setiap pengunjung bisa menyaksikan setiap ruangan yang ada. Namun, tak semua ruangan bisa disaksikan pengunjung.

Akan tetapi, tim Jawa Pos diberikan kesempatan untuk menyaksikan hampir semua ruangan yang ada di bangunan 10 lantai tersebut.

Untuk menghitung jumlah ruangan di setiap lantai, tim juga sempat kesulitan. Selama tiga jam lebih, beberapa anggota tim disebar untuk secara khusus menghitung jumlah ruangan mulai dari lantai 1 hingga 10.

Hasilnya, ternyata hasil hitungan antara satu orang dengan orang lainnya tidak sama jumlahnya. Ada yang setelah menghitung, jumlah ruangannya dari lantai 1–10 adalah 173 ruangan.

Namun, ada pula yang mencatat 184 ruangan. Bahkan, ada salah seorang anggota tim yang sempat tersesat karena tidak tahu jalan keluar ketika sedang asyik-asyiknya menghitung ruangan di setiap lantai.

”Hitungan saya langsung ambyar (hilang) begitu saya sadar kalau sedang tersesat,” kata anggota tim yang tersesat itu.

Saat ditanyakan berapa sebetulnya jumlah ruangan ini ke beberapa santri di ponpes itu, mereka kompak menjawab tidak tahu.

”Kami tidak pernah bisa menghitung jumlah ruangan secara pasti. Yang jelas, jumlahnya mencapai ratusan ruangan,” kata Purwanto, salah seorang santri senior yang menemani wartawan media ini mengelilingi bangunan ponpes.

Setelah menyaksikan satu per satu ruangan di ”Masjid Jin”, ada kesan kuat yang langsung tebersit. Yakni, konstruksi bangunannya terkesan tidak tertata dan sekilas agak serampangan.

Tapi anehnya, tetap menyenangkan jika dipandang. Salah satu sebabnya, di setiap ruangan kaya akan hiasan ornamen biru dan putih.

Corak hiasannya pun seperti tidak lazim. Namun, lagi-lagi tetap menyenangkan jika dilihat.

Ruangan-ruangan di dalam ”Masjid Jin” itu tidak sama ukurannya. Ada yang berukuran besar, sekitar 20×100 meter. Ada pula yang terkecil, 1×2 meter.

Ruangan di lantai I kebanyakan masih berupa bangunan kuno. Di lantai ini, terdapat kamar yang dulu ditinggali oleh almarhum KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rohmad Alam.

Dia adalah pendiri Ponpes Salafiah Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah (selanjutnya disebut Bihaaru).

KH Ahmad Bahru wafat pada 2010. Di lantai I, juga ada dapur, ruang keluarga, hingga musala yang biasanya digunakan untuk mengajar para santrinya.

”Ini ndalemnya (rumahnya) romo Kiai Ahmad (panggilan KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rohmad Alam),” ujar Purwanto sambil menunjuk ruangan yang dindingnya terlihat sudah banyak yang lapuk.

Kini, bangunan di lantai I itu sudah tidak ditempati keluarga Kiai Ahmad sehingga menjadi tempat peristirahatan para santri. Wisatawan yang berkunjung juga diperbolehkan beristirahat di area tersebut.

Namun, karena lokasinya berada di tempat yang menyerupai lembah dan agak tersembunyi, tak banyak pengunjung yang mengetahuinya.

Usai mendampingi berkeliling ke seluruh ruangan di lantai I, dilanjutkan ke lantai II. Di tempat ini, sudah banyak bangunan baru. Beberapa pengunjung tampak berseliweran berada di ruangan ini.

Pengasuh dan para santri tidak ada yang mengetahui berapa total dana yang dihabiskan untuk membangun ”Masjid Jin”.

Tapi, berdasarkan penghitungan Tim, gedung 10 lantai itu menghabiskan dana sekitar Rp 826 miliar.

Angka itu dihasilkan dari penghitungan harga lahan dan bangunan. Berdasarkan data di kepala Desa Sananrejo dan camat Turen, harga tanah di area ”Masjid Jin” berkisar Rp 400 ribu per meter persegi.

Karena lahan tersebut seluas 6,5 hektare, berarti uang yang dikeluarkan untuk pembebasan lahan mencapai Rp 26 miliar (400.000 x 65.000 meter persegi).

Sementara itu, untuk biaya pembangunannya, diasumsikan Rp 2 juta per meter persegi. Dari lahan 6,5 hektare tersebut, sekitar 4 hektare sudah terisi bangunan.

Dengan demikian, bangunan satu lantai menghabiskan dana Rp 80 miliar (2.000.000 x 40.000). Karena ada 10 lantai, berarti total dana yang dikeluarkan sekitar Rp 800 miliar (80 miliar x 10 ).

Pengasuh Ponpes Bihaaru Bahri ’Asali Fadlaailir Rahmah KH Ahmad Hasan menyatakan, pihaknya tidak pernah menghitung jumlah dana yang dikeluarkan untuk pembangunan gedung tersebut.

”Kalau dihitung, khawatir mengurangi keikhlasan,” katanya.

Jadi, dari mana dananya? Abah Hasan, panggilan akrab KH Ahmad Hasa, menjelaskan, ada beberapa sumber dana pembangunan. Selain uang pribadi Kiai Ahmad, juga ada sumbangan santri dan donatur.

”Kami tidak pernah meminta sumbangan. Tapi, kalau ada yang menyumbang, ya tidak apa-apa,” kata Abah Hasan.

Sumber : Jawa Pos

LEAVE A REPLY