Nungki Kusumastuti : Kontemporer Asia Tenggara Dalam RIF 2017

691
Nungki Kusumastuti, dosen tari IKJ, aktris, penari, tokoh tari dan pengamat tari Indonesia, foto : istimewa

KABANEWS.COM – Perbedaan perspektif dalam menonton karya tari garapan Melayu kekinian “RIF 2017” karya penampil 4 negara : Indonesia, Singapore, Malaysia dan Brunei Darussalam, mungkin dapat menjadi perbandingan tentang wacana dan gaya penggarapan tari kontemporer di Asia Tenggara yang pada dasarnya adalah “Serumpun”.

Ibu Nungki Kusumastuti dalam wawancaranya dengan kabanews.com, Minggu (14/5/2017), bercerita panjang lebar “Kontemporer di Asia maupun di Eropa dan Amerika, jelas sangat berbeda. Kalau kita ngomong kekinian, perkembangannya di setiap negara itu berbeda-beda, sejarahnya pun berbeda. Sebagai contoh regional saja, Singapore, Malaysia, Indonesia, Brunei dan Filipine. Sejarah, basic dan latar belakangnya sangat jauh berbeda. Kesamaan Indonesia dengan negara-negara serumpun itu, sama-sama punya tari Melayu, akan tetapi Melayunya juga sudah berkembang ke berbagai ragam, apalagi dalam menghadapi globalisasi ini.

Menurut Mbak Nungki, panggilan akrab dosen sejarah tari di IKJ ini, ketika ditanya, bagaimana mengenai bentuk penggarapan dan gaya ungkap ragam pertunjukan 4 negara dalam RIF 2017?

“Bentuk penggarapan karya bisa sangat beragam, karena konsep kontemporer yang berkembang saat ini di Eropa dan Amerika yang kemudian konsep itu kita pinjam, sebenarnya adalah bagaimana manusia berungkap, mangekspresikan harapannya, cita-citanya, pikirannya, konsep tubuhnya dalam ekspresi yang bermacam ragam, sehingga yang terjadi sekarang ini apalagi yang berkembang di Eropa dan Amerika sangat bebas sekali, beragam sekali. Misal, kalau di Amerika, mereka kadang-kadang masih suka menggarap teknik, akan tetapi di Eropa bisa sangat konseptual, bentuk-bentuk yang diciptakan bisa aneh sekali. Kemudian kalau kita beralih melihat ke Asia tentu akan beda lagi, Asean apalagi. Bagi saya itu hal yang alamiah sebagai ungkapan humanity, keberagaman itu tidak menjadi masalah.

Pada penampilan malam itu banyak karya yang sangat kental tradisinya dan menggunakan banyak elemen ekspresi. Apakah itu gaya ungkap estetika tari kekinian yang digandrungi sekarang?

“Kalau kita bicara estetika, estetika itu kan persepsi inderawi, inderawi itu persepsi tubuh kita, bisa indah, bisa marah, bisa segala macam perasaan, sehingga keragaman tari kontemporer itu kemudian menjadi lebar. Bisa bermacam-macam bentuk, biarkan saja. Akan tetapi dibalik itu semua, sebetulnya semua adalah persoalan ekspresi humanity. Mengadakan sebuah event kemudian menjadi penting dalam berkesenian. Karya seni dapat melampaui batas-batas politik, ekonomi atau apapun yang sangat sadis dan tidak menyenangkan, bagus jelek itu relatif, kesenian tidak ada salah atau benar. Harapan kita dengan pemahaman yang mendalam tentang estetika dan artistik, akan meningkat pada pemahaman kualitas, menyangkut teknik. Teknik sederhana pun apabila “kuat” akan merefleksikan kekuatan dari karya itu”, terang Mbak Nungki Kusumastuti.

Pewarta : Indra Zubir

Baca juga : Keberagaman Dalam Ragam International Festival 2017

 

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.