Suto Pranto, Rumah Makan Padang, Merajut Asa…

830
suto pranto, pencipta lagu dangdut indonesia, asal minangkabau foto : istimewa

KABANEWS.COM – Suto Pranto merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Lahir di Bandung 17 Agustus 1967 dengan nama asli Suharto, keluarga Mustafa Kamal (alm) dan Zubaidah (alm), keturunan asli Minangkabau Sumatera Barat.

Suto Pranto akrap dipanggil Suto, adalah singkatan dari nama Suharto, pemberian teman-temannya semasa sekolah.

Oleh karena nama Suharto membuat teman-temannya selalu risih saat menyebut nama yang kebetulan nama Presiden Indonesia saat itu, maka akhirnya nama Suto Pranto melekat pada dirinya sampai saat ini.

Di tengah pergaulan teman-teman sekolah, Suto Pranto sangat dikenal sebagai seorang anak yang cerdas, mudah bergaul dan memiliki prestasi yang membanggakan.

Setiap akhir tahun pelajaran, Suto selalu meraih rengking pertama untuk hasil belajarnya. Tidak tanggung-tanggung, prestasi itu ia pertahankan sampai ia menyelesaikan pendidikan Sekolah Menengah Pertama.

Pendidikan dasar dan menengah ia selesaikan di kampung halaman Paninggahan Solok Sumatera Barat.

Selama menjalankan pendidikan sekolah dasar dan menengah, ia selalu beradaptasi dan mengenal lingkungan budaya serta alam Ranah Minang dengan baik. Kondisi itu cukup membentuk karakter dan sifatnya sebagai seorang anak laki-laki Minangkabau yang memakai sistim Matrilinial atau garis keturunan ibu.

Untuk melanjutkan Pendidikan Sekolah Menengah Atas ia dan ayahanda merantau ke kota kembang Bandung Jawa Barat.

Selama masa pendidikan Sekolah Menengah Atas di Bandung, ia hanya didampingi oleh ayahanda, sementara ibunda tercintanya saat itu tetap berada di kampung halaman.

Ketika menjalankan pendidikan di Sekolah Menengah Atas, Suto Pranto mulai gemar menulis syair-syair lagu, dan kemudian ia tempelkan di mading atau majalah dinding sekolah, sebagai salah satu media tempat mempromosikan syair-syair lagu yang telah dibuatnya saat itu.

Pada tahun ajaran 1985/86, Suto menyelesaikan Sekolah Menengah Atas dan melanjutkan ke perguruan tinggi Universitas Pasundan Bandung jurusan Teknik Elektro. Akan tetapi, karena keterbatasan biaya, kegiatan perkuliahan di perguruan tinģgi ini hanya bisa ia ikuti selama empat bulan saja. Mau tidak mau Suto harus merelakan semua itu.

Sejak saat itu Suto mulai berfikir, apa yang bisa ia kerjakan. Untuk usaha dagang ia tidak punya bakat, apalagi bekerja pada sebuah kantor.

Suto tidak mau menyerah begitu saja. Ia bekerja dan tinggal di sebuah rumah makan Padang yang berlokasi dalam sebuah terminal bis kota Bandung. Di rumah makan Padang inilah Suto menatap masa depannya, merenung, bekerja dan berdo’a agar ia bisa bertahan hidup di tengah gelombang pasang surut kehidupan yang tengah ia jalankan saat itu.

Bersambung ……

Penulis : Benny Krisnawardi

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.