Sarat Pesan Moral, TMII Gelar Parade Teater Tradisi

748
Adegan teater dari Lampung, tentang Kera Berbulu Emas dalam Parade Teater Tradisi 2017 di Taman Mini Indonesia Indah (20/5/2017) foto : kabanews.com

KABANEWS.COM – Parade Teater Tradisi 2017 di Candi Bentar, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, merupakan parade teater ke enam. Program rutin setiap tahun yang diselenggarakan oleh TMII. Selain menyelenggarakan Parade Teater Tradisi, TMII juga menyelenggarakan Parade Tari Nusantara, Parade Busana Daerah dan Parade Musik.

Sebagai bentuk pelestarian dan pengembangan Teater Tradisi di tanah air, program Parade Teater Tradisi ini juga merupakan salah satu bentuk membangun semangat berkompetisi dalam berkesenian dan berteater, kompetisi untuk menciptakan karya yang bermutu dengan penggarapan yang matang.

Diikuti oleh enam peserta dari berbagai daerah, Parade Teater Tradisi tahun ini, Sabtu (20/5/2017) sarat akan pesan moral. Pertunjukan teater dari Lampung, mengangkat cerita rakyat dari kabupaten Lampung Barat, menceritakan tentang kesalah pahaman ibu terhadap anaknya, ketika si ibu memarahi anaknya atas kesalahan yang tidak dilakukan oleh anaknya, sang anak kemudian lari dari kasih sayang sang ibu yang membuat ibunya kemudian menyesal telah memarahi dan memukulnya.

Teater dari Lampung meraih Pemeran Putri terbaik dan mendapatkan piagam, piala dan uang pembinaan dari Dirut TMII sebesar 2,5 juta rupiah.

Alkisah disebuah hutan terdapat habitat kera berbulu emas yang diyakini pada zaman dahulu mempunyai kisah cerita, kisah cerita tersebut berawal dari kisah hidup sepasang suami istri yang memiliki dua orang anak laki-laki dan perempuan bernama ambu dan lira yang hidup di pinggir hutan. Pada suatu hari sepasang suami istri ini hendak pergi ketengah hutan untuk mencari kayu bakar, sang ibu berpesan kepada anaknya untuk menjaga nasi yang sedang dimasak hingga tanak dan jangan memakan sebelum ayah dan ibu kembali dari hutan, namun sang adik tiba-tiba lapar, dan untuk memenuhi rasa lapar sang adik, sang kakak pun mengajak adiknya untuk mencari buah dipinggir hutan dan memakannya di dapur gubuk mereka, tak lama kemudian ibu dan ayah pun kembali dari hutan dan betapa kaget dan terkejutnya si ibu melihat nasi berserakan di lantai gubuk mereka, dan sang ibu langsung memanggil-manggil kedua anak tersebut, memarahi dan memukul-mukul kedua anaknya tanpa mengetahui bahwa yang berserakan itu sebenarnya bukan nasi, tapi biji buah-buahan yang berserakan di lantai. Mendengar penjelasan dari kedua anaknya timbullah penyesalan dari sang ibu, namun kedua anaknya telah berlari menuju hutan dan meminta kepada alam untuk berubah menjadi dua ekor kera untuk menghindari amarah sang ibu.

Kisah ini menunjukkan sisi lain dari kisah ibu dan anak, seakan memutar balikkan pesan moral yang biasa kita dengar dari cerita-cerita rakyat lainnya, tentang kedurhakaan anak terhadap ibu/orang tua. Fakta ibu yang kadang juga berbuat khilaf terhadap anaknya, seperti dalam cerita ini mengingatkan, agar seorang ibu teliti jika memarahi anaknya, karena apabila si ibu marah tidak pada tempatnya hanya akan membuat sang ibu kehilangan kepercayaan dan kasih sayang dari anaknya, pada konteks zaman sekarang merupakan fakta yang pernah terjadi di sebagian sisi kehidupan.

Menjelma menjadi kera berbulu emas, merupakan kehendak dini dari sang anak yang menginginkan dirinya untuk diberi kekuatan oleh alam, demi menyelamatkan diri dari amarah sang ibu. Terbersit dalam cerita ini tentang keberadaan sang ibu sebagai jembatan ke ridhaan Tuhan seakan tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk menguasai dan menyelamatkan darah dagingnya.

Menyimak cerita yang ditampilkan oleh teater dari Lampung ini seperti dihadapkan pada dua sisi mata koin yang bersebelahan dan kadang kita tak tahu sisi mana yang akan terbuka, kedurhakaan anak kadang juga merupakan kesalahan dari ibu yang tak disengaja, sehingga akhirnya alam menunjukkan kekuatannya dan berpihak pada insan yang berhati murni.

Baca Juga : Inilah Para Pemenang Parade Teater Tradisi 2017

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.