Surau dan Silek : Ketika “Kita Berhadapan Dengan Kita”

583
foto : Renee Sariwulan

Risa,

Silat Minangkabau mulai ibu kenal di kelas Gaya Tari Minang 26 tahun yang lalu. Waktu itu ibu baru menempuh S1 di Jurusan Tari IKJ. Di kelas itu, ibu belajar tari Minang yang berbasis silat Minangkabau. Mas Tom Ibnoer, dosen kelas itu, langsung menarik perhatian ibu karena beliau mengajarkan teknik dan ragam gerak tari Minang, berbarengan dengan filosofi yang mendasarinya. “Alam takambang jadi guru” (alam berkembang menjadi guru, alam adalah guru yg baik, berguru pd alam) adalah hal yang menempel di benak ibu sampai detik ini. Silat, alam, dan manusia Minangkabau adalah tiga hal yang tak terpisah. Ketiganya berinteraksi sebagai segitiga yang bergerak, dengan manusia yang menjadi subyeknya.

Pada perjalanan selanjutnya, referensi itu dipadatkan dengan pengetahuan tentang prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” : adat bersendi agama, agama bersendi kitab suci. Prinsip ini sudah ibu ketahui sejak SD, mendapat penebalan kembali dengan konteksnya ketika kuliah. Pemahaman yang muncul adalah bahwa masyarakat Minang menjadikan adat yang tidak bertentangan dengan kitab suci, sebagai landasan hidupnya. Kitab suci ? Ya, Al Qur’an, Ris.

Kemarin, ibu nonton film Surau dan Silek, sutradara Arif Malinmudo. Waktu ibu nonton film Kartini 10 hari yang lalu, ibu sudah melihat poster Surau dan Silek di kaca “coming soon”. Namun waktu itu ibu beranggapan bahwa film ini hanya mengumbar romantisme saja dari sentimen keislaman dan primordialisme, yang lebih menonjolkan kecengengan dan inferioritas, seperti kebanyakan film bertema islam yang ibu tonton selama ini. Ibu menjadi tergerak untuk nonton, ketika mendapat info bahwa film ini adalah karya untuk menempuh ujian kelulusan studi S2 dari sutradaranya.

Dan kembali, ibu menjumpai Minangkabau, kali ini di layar lebar.
Kakek Johar, Adil, Dayat, dan Kipril adalah sosok-sosok utama yang dihadirkan sutradara. Poin pertama ibu berikan pada film ini karena menjadikan bahasa lokal sebagai bahasa utama filmnya. Arif menghadirkan manusia Minangkabau yang membicarakan dirinya. Pemahaman tentang alam, manusia, dan nilai Minangkabau yang ibu miliki diperkaya lagi dengan pemahaman yang mengerucut tentang makna silat Minang, melalui ungkapan kakek Johar : silat adalah bagian dari segitiga shalat~salawat~silat. “Mau belajar silat ? Shalatnya sudah penuh belum ?” tanya kakek Johar pada ketiga anak itu. Belajar silat adalah belajar pengendalian diri dan kepekaan, lanjut kakek Johar. Di sinilah alam menjadi pendukungnya. Jajaran cadas, tebing, bukit, kebun, sawah, hutan, adalah hamparan bumi Minangkabau yang dihadirkan sutradara. Ibu membacanya sebagai alam yang membuka dirinya untuk menjadi teman dialog manusia dalam pertumbuhannya, dalam perjalanannya. Ini adalah penegasan bahwa pertempuran dalam konsep silat Minang adalah “kita berhadapan dengan kita”, “aku menghadapi diriku” ; BUKAN “kita melawan mereka”, atau “aku melawan dia”, atau “aku melawan kamu”, atau “aku melawan mereka”.

Kakek Johar juga menyatakan bahwa silat Minang adalah wujud hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan : “lahirnya adalah mencari kawan, batinnya adalah menemukan Tuhan”. Pernyataan terakhir tersebut membongkar kembali bayangan kelam tentang negeri ini, yang sudah berhasil ibu benamkan beberapa hari yang lalu. “Mencari kawan, menemukan Tuhan”, indah sekali bukan jika semangat ini bisa menjadi inspirasi bangsa. Dan surau (tempat ibadah) adalah inspirasi-pendorong-semangat utama kedamaian ; bukan justru dijadikan ruang keleluasaan bagi kebodohan-kelemahan-kesesatan-kedzaliman. (Bayangkan para manusia bodoh dan lemah pendukung kesesatan yang saat ini bersorak merayakan kemenangan, beranggapan bahwa itulah jalan surganya, suatu ketika hanya mampu membelalak ketika menyadari akibat yang tak pernah terbayangkan olehnya, ketika semua telah menjadi abu)

“Aku berhadapan dengan aku”, “kita berhadapan dengan kita” akhirnya menjadi penyejuk, Ris. Bahwa ruang kita akan terbentuk karena diri kita sendiri. Masing-masing kita memiliki jalan dan ruang sendiri. Kita bertanggungjawab penuh atas guratan dan coretan kita di ruang itu. Kita tidak berurusan dengan guratan-coretan orang lain, karena itu adalah wilayah tanggungjawabnya sendiri. Bagimu adalah buah sikapmu, bagiku adalah buah sikapku.

Cinta dan kebaikan kita pada bumi Tuhan yang dititipkan pada kita, akan berbuah cinta dan kebaikan pula pada kita, tak terbayangkan dan tak terhingga.

Ok Ris, yuk kita lanjutkan jalan kita, menuju tanah masa depan.

Penulis : Renee ¬†Sariwulan¬†“Saya menyenangi dunia riset dan kritik tari. Setelah sempat menjadi Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta, kini saya melakukan riset mandiri tentang hubungan antara sastra, tubuh, budaya, dan tari. Selain di beberapa kumpulan tulisan, saya juga mempublikasikan tulisan di media massa cetak maupun online”.

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.