Tridaya Eka Dharma, Museum Panorama Bukittinggi

600
foto istimewa

KABANEWS.COM – Di depan taman panorama, terdapat pesawat terbang yang siap lepas landas. Pesawat itu sering menjadi latar belakang wisawatan lokal untuk berfoto. Pesawat merupakan koleksi museum Tridaya Eka Dharma. Walau museum terletak di depan taman panorama, yang selalu dipenuhi pengunjung, tapi hanya sedikit wisatawan yang datang ke museum. Padahal, tidak perlu membayar untuk melihat dan mengetahui koleksi museum. Museum buka dari pukul 8:00 – 16:00 WIB.

Tahun 1980-an, saat sekolah dasar, saya melihat koleksi museum dengan beberapa teman. Ada pemandu museum yang akan menjelaskan koleksi, berpakaian militer. Saya masih ingat, pemandu museum menjelaskan baju tentara Indonesia dan perlengkapannya yang berperang dengan tentara fretilin di Timor Timur.

Koleksi museum antara lain : senapan laras pendek, senapan laras panjang, granat, amunisi, meriam, alat komunikasi (pemancar radio, telepon, alat penerima sinyal). Dokumentasi berupa foto para jenderal, pahlawan revolusi, dan presiden Indonesia. Ada senjata tradisional yang digunakan pejuang dalam Perang Kamang, Perang Paderi, dan Perang Manggopoh : Badik setengga, Parang, Ruduh, Pupuik Tanduk (tanda bahaya yang digunakan pada Perang Kamang), dan Pedang. Sebagian senjata buatan Indonesia dan ada yang buatan Sungai Puar, Sumatera Barat.

Museum Tridaya Eka Dharma, 16 Agustus 1973 diresmikan oleh Mohammad Hatta, Museum ini digagas oleh Brigjen Widodo, (pimpinan TNI wilayah Sumatera Tengah). Lalu, gagasan tersebut dilanjutkan oleh Brigjen Soemantor dan diberi nama Museum Perjuangan Tridaya Eka Dharma (tiga unsur kekuatan satu pengabdian) dalam bahasa Minang “Tigo Tungku Sajarangan”. Museum didirikan di Bukittinggi, karena kota ini, pernah menjadi ibukota provinsi Sumatera dan ibukota negara Republik Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Pesawat terbang yang terdapat di halaman museum, Pesawat Terbang AT-16, Harvard B-419 buatan Amerika Serikat, yang digunakan menumpas pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia di Sumatera Tengah tahun 1958, di daerah Indarung, Bukittinggi, Payakumbuh, dan solok, setelah masa terbangnya, diletakkan di Lanud Hussein Sastra Negara di Bandung. Tahun 1973, dijadikan koleksi Museum Tridaya Eka Dharma, seperti dilansir jam gadang.com

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.